MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING DENGAN MEDIA AUDIO VISUAL
A. ABSTRAK
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa atau kejadian alam dengan melakukan observasi, eksperimen agar menghasilkan sebuah data yang valid. Model pembelajaran Problem Based Learning dengan Media Audio Visual adalah pembelajaran yang bertujuan untuk membantu pengajar atau pendidik untuk menyampaikan materi melalui perantara media untuk memperoleh pembelajaran yang tidak monoton dan juga untuk menarik minat siswa terhadap sains. Tak jarang siswa yang mengeluh tentang materi IPA yang hanya seputar rumus dan materi-materi eksak saja, sehingga perlu adanya dilakukan model pembelajaran seperti ini agar siswa lebih terarah pada kejadian-kejadian atau fenomena-fenomena alam lainnya yang nyata. Materi IPA tidak jauh dari proses pemecahan masalah. sehingga perlu adanya metode pembelajaran yang efektif untuk memecahkan permasalahan tersebut salah satunya yaitu dengan bantuan media. Media merupakan segala sesuatu yang dapat menyampaikan sebuah pesan kepada orang-orang. Media juga berperan penting didalam suatu proses belajar khususnya dibidang materi IPA. Bahkan dizaman yang serba maju ini, media seakan menjadi kebutuhan bagi siapapun terlebih bagi para pelajar. Media audio video menampilkan sekaligus menyampaikan pesan suara yang berisi materi pembelajaran, sehingga dapat membantu guru dalam menyampaikan materinya. Selain itu media ini juga dapat menarik minat siswa untuk belajar karena adanya tampilan-tampilan yang tidak membosankan. Dalam hal ini, guru harus tepat memilih bahan untuk penyampaian materi.
B. LATAR BELAKANG
Di era digital ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi semakin mendorong upaya-upaya pembaharuan dalam pemanfaatan hasil teknologi dalam proses belajar mengajar. Proses belajar adalah suatu kegiatan dimana seseorang sedang mencari atau menambah wawasannya. Adapun faktor yang mempengaruhi kamauan untuk belajar antara lain:
a. Faktor eksternal
Faktor eksternal adalah faktor yang berasal dari luar yang meliputi keluarga dan lingkungan sekitarnya. Dengan adanya dukungan keluaga, seseorang akan merasa lebih baik dan memiliki semangat untuk belajar. Kemdian dari lingkungan sekitar juga sangat berpengaruh, misalnya lingkaran pertemanannnya. Seseorang yang memiliki teman yang dapat memotivasi dirinya untuk belajar cenderung lebih memiliki semangat jiwa yang serius dibandingkan seseorang yang memiliki teman yang sebaiknya justru bisa membuat semangatnya menuruh bahkan sampai tidak peduli dengan prestasi belajarnya.
b. Faktor internal
Faktor eksternal yaitu faktor yang berasal dari diri sendiri, meliputi:
Faktor psikologis, yang menyangkut keadaan fisiknya seseorang. Seseorang yang memiliki keadaan fisik yang sehat dapan memacu semangat belajar sedangkan ketika seseorang berada dalam kondisi yang kurannh sehat akan sangat berpengaruh pada kurangnya semangat belajar.
Faktor psikologis, yang berasal dari diri sendiri seperti minat maupun sikap. Seseorang yang memiliki minat belajar yang tinggi akan sangat berpengaruh pada prestasi belajarnya karena pasti dia akan selalu ingin tahu dan itu akan menambah wawasan belajarnya.
Pendidikan adalah suatu proses dimana seseorang mengembangkan dirinya maupun ilmu pengetahuannya. Adapun pelaku pendidikan yaitu tenaga pendidik dan peserta didik. Pendidik adalah seseorang yang menyampaikan materi, sedangkan peseta didik adalah yang menerima materi tersebut. Dimana keduanya saling berinteraksi dalam sebuah kegiatan belajar mengajar. Sebagai pendidik memahami kebutuhan dalam proses pembelajaran adalah sebuah kewajiban agar terlaksananya tujuan pembelajaran yang maksimal. Sebuah pembelajaran yang baik mampu memberikan pengalaman langsung maupun tidak langsung terhadap peserta didik. Pembelajaran yang selama ini guru lakukan adalah pembelajaran dengan memasukkan semua informasi ke dalam ingatan siswa tanpa mengetahui apakah informasi tersebut dapat masuk atau tidak ke dalam ingatan siswa. Guru tidak memberikan pembelajaran yang dapat siswa ingat melalui seluruh alat indaranya seperti melalui pendengaran, penglihatan, meraba dan merasakan. Menurut pendapat Thorndike (2009: 34), belajar merupakan proses interaksi antara stimulus dan respon. Stimulus berasal dari apa yang merangsang terjadinya kegiatan belajar seperti pikiran, perasaan, atau hal-hal lain yang dapat ditangkap melalui alat indera, sedangkan respon merupakan reaksi yang dimunculkan oleh siswa ketika belajar, yang dapat berupa pikiran, perasaan, atau gerakan/tindakan. Sehingga perubahan tingkah laku akibat kegiatan belajar dapat berwujud konkrit terlihat oleh guru sehingga dapat diamati perubahannya melalui proses pembelajaran. Proses pembelajaran yang menarik yang dapat membuat respon siswa tinggi sehingga mengakibatkan perubahan tingkah laku siswa terhadap respon tersebut pun terlihat lebih besar.
Situasi disekolah yang modern ini membutuhkan seorang siswa untuk secara aktif memecahkan masalah, yang utamanya adalah kemampuan siswa untuk menjalin sebuah hubungan antara satu sama lain dengan gurunya atau teman lainnya. Menurut L.S. Konsep Vygotsky [3][21], “Pembentukan anak-anak keterampilan berbahasa adalah salah satu tugas utama sekolah”. Dengan adanya pemberian suatu masalah pada awal pembelajaran kemudian siswa dapat memperoleh pemahaman awal terhadap materi yang akan disampaikan. Karakteristik komunikasi yang efektif yaitu, saling mengerti antara lawan bicara, pemahaman yang baik tentang situasi dan pemahaman tentang subjek komunikasi. (Means & Elmira, n.d.)
Dalam hal ini guru dapat menggunakan model pembelajaran yang tepat salah satunya adalah model problem based learning dimana salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan karena model pembelajaran ini menekankan pada masalah kehidupan nyata yang bermakna bagi siswa dan siswa dapat menyelesaikan masalah tersebut dengan bukti-bukti nyata yang terdapat dalam lingkungan sekitar siswa. Pembelajaran berbasis masalah (PBL) telah banyak diadopsi dalam berbagai bidang dan konteks pendidikan untuk berpikir kritis dan memecahkan suatu masalah. Karena Ilmu Pengetahuan Alam tidak terlepas dari pembahasan suatu masalah baik pada mahluk hidup maupun alam semesta.
Menurut Ibrahim dan Nur (2000) dalam Agus N. Cahyo (2013:285), pembelajaran berbasis masalah (problem based learning) memiliki beberapa kelebihan, diantaranya: (1) Siswa lebih memahami konsep yang diajarkan sebab mereka sendiri yang menemukan konsep tersebut, (2) Melibatkan secara aktif memecahkan masalah dan menuntut keterampilan berpikir siswa yang lebih tinggi, (3) Pengetahuan tertanam berdasarkan skemata yang dimiliki siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna, (4) Siswa dapat merasakan manfaat pembelajaran, sebab masalah-masalah yang diselesaikan langsung dikaitkan dengan kehidupan nyata, hal ini dapat meningkatkan motivasi dan ketertarikan siswa terhadap bahan yang dipelajari, (5) Menjadikan siswa lebih mandiri dan dewasa, mampu memberi aspirasi dan menerima pendapat orang lain, menanamkan sikap sosial yang positif di antara siswa, (6) Pengondisian siswa dalam belajar. (Virgiana & Wasitohadi, 2016)
Proses pembelajaran IPA akan menjadikan siswa aktif jika dalam pembelajaran, guru mengaitkan dengan pengalaman yang ada di lingkungan sekitar peserta didik dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran dapat diperoleh dari alat dan bahan yang ada di lingkungan sekitar. kelompok yang saling berinteraksi terhadap guru dan peserta lainnya, dapat menyelesaikan suatu permasalahan yang sedang dibahas.
Selain metode yang digunakan, proses belajar juga memerlukan alat bantu media pembelajaran. Salah satunya adalah media audio visual. Media ini mampu memberikan materi sekaligus wawasan melalui tampilan nyata yang ditayangkan, sehingga pembelajaran tidak terlalu monoton atau membosankan. Melalui gambar, siswa secara tidak langsung telah melihat bentuk nyata atau kejadian-kejadian yang sulit dijelaskan pada proses belajar mengajar. Sedangkan video, melengkapi gambar atau visualnya sekaligus suara atau audionya. Bahkan, video telah menjadi sumber daya pendidikan untuk kaum muda.
C. ISI
Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) adalah salah satu ilmu pengetahuan yang mendasari perkembangan teknologi. Oleh karena itu pelajaran ipa penting untuk dikelola dan diperhatikan baik di jenjang SD, SMP, maupun SMA. Pendidikan IPA diharapkan dapat menjadi dasar pemahaman bagi peserta didik untuk mempelajari diri sendiri dan alam sekitar, serta pengembangan lebih lanjut dalam menerapkannya didalam kehidupan sehari-hari. Didalamnya mempelajari segala sesuatu yang ada dibumi dan antariksa yang tersusun secara sistematis berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai kegiatan para ilmuan. Dapat disimpulkan bahwa IPA adalah ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang ada dialam. Pendidikan IPA menekankan pada pemberian pemahaman langsung dan praktik lapangan untuk mengembangkan kompetensi agar siswa mampu memahami alam sekitar secara ilmiah. Proses pembelajaran IPA akan menjadikan siswa aktif jika dalam pembelajaran, guru mengaitkan dengan pengalaman yang ada dilingkungan sekitar peserta didik dan menggunakan media pembelajaran yang sesuai dengan materi yang diajarkan. Sumber belajar yang digunakan dalam pembelajaran dapat diperoleh dari alat dan bahan yang ada disekitar. Pembelajaran tergantung bagaimana proses belajar mengajar yang dialami oleh setiap individu. Oleh karena itu, pada lembaga pendidikan diperlukan inovasi-inovasi baru dalam upaya pencapaiannya seperti media dan strategi pembelajaran sebagai pendukung tercapainya tujuan pembelajaran. Karena kebanyakan siswa kurang tertarik pada buku-buku materi pelajaran.
Pembelajaran menggunakan media audio visual menjadi salah satu model pembelajaran yang bagus. Karena dengan demikian, siswa bisa lebih mengembangkan pikirannya dalam menyelesaikan suatu masalah. Media ini tidak hanya menyampaikan materi saja, melainkan juga menampilkan kejadian-kejadian nyatanya. Siswa menjadi semakin aktif bertanya maupun mengutarakan pendapatnya.
Pembelajaran tidak selalu dengan kegiatan belajar mengajar antara guru dan siswa, dimana guru menyampaikan materi kepada siswa dan siswa menerima materi dari guru. Dalam kegiatan belajar, masih terdapat siswa yang pasif dan masih enggan berpendapat dikelasnya. Permasalahan selanjutnya adalah siswa yang kadang kurang memperhatikan guru. Oleh karena itu, perlu adanya model pembelajran baru agar siswa tidak mudah bosan jika pembelajaran dikelas. Salah contohnya adalah menggunakan media yang berbasis visual maupun audio visual. Pembelajaran secara visual dapat berupa gambar, foto, lukisan atau gambar dua dimensi lainnya, sehingga dapat memvisualisasikan objek dengan lebih konkret dan dapat mengatasi ruang dan waktu. Sedangkan secara audio visual yaitu pembelajaran menggunakan video sebagai bahan belajar bagi siswa. Media audio visual yang baik membutuhkan desain visualisasi dan bobot materi yang baik pula untuk membantu siswa menguasai tingkatan kajian tersebut dan belajar secara mandiri. Guru memberikan materi kepada siswa melalui video materi belajar. Dengan adanya video, siswa bisa melihat lebih nyata proses terjadinya suatu fenomena. Misalnya pada kejadian banjir, fenomena Vulkanik, maupun peristiwa-peristiwa alam lainnya sehingga siswa bisa semakin faham dan juga aktif dalam kegiatan pembelajaran. Menurut UNESCO, saat mendengarkan, seseorang mengingat 15% bahasa informasi, dan ketika melihat 25%, dalam melihat dan mendengar 65% informasi akan diingat olehnya. (Means & Elmira, n.d.)
Media audio visual yang efektif harus mengandung instruksi yang jelas, mudah digunakan, serta pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh peserta didik. Media pembelajaran tidak hanya mempermudah proses pembelajaran, tetapi juga merubah sesuatu yang abstrak menjadi lebih nyata. Pada umumnya, guru memberi materi atau penjelasan kepada siswa bersifat abstrak. Sehingga siswa menjadi malas atau tidak memiliki gairah untuk belajar. Perlu adanya media pembelajaran untuk menjadikan sesuatu yang abstrak menjadi konkret sesuai dengan peristiwa kehidupan sehari-hari. Dengan adanya model pembelajaran seperti ini memungkinkan siswa bersemangat atau menjadi lebih menyenangkan. Penggunaan audio visual juga dapat meningkatkan perhatian siswa dengan tampilan-tampilan yang menarik ketika siswa sudah mencapai titik jenuh dalam kegiatan belajar yang hanya seperti biasa.
Pentingnya media pembelajaran yaitu sebagai pemahaman baru bagi siswa dan juga sebagai alternatif guru disaat guru kesulitan memberikan materinya. Meski begitu, guru juga harus lebih teliti saat memilih bahan pembelajarannya agar tidak terjadi gagal pemahaman terhadap siswa. Tak hanya sebagai media belajar disekolah, siswa juga dapat mempelajarinya dirumah atau secara mandiri karena media audio visual ini sangat mudah didapat di berbagai sumber.
D. KESIMPULAN
Metode pembelajaran ini bertujuan untuk membantu meningkatkan proses pembelajaran IPA dan sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan minat belajar siswa dalam mata pelajaran IPA. Seperti yang diketahui, minat siswa pada bidang sains sangat tipis. Sehingga dengan adanya media audio visual ini siswa sedikit tertarik dan mau belajar sains dibandingkan pembelajaran seperti biasa dikelas. Guru hanya menjelaskan kepada murid atau memberi materi tidak terlalu efektif, malah membuat siswa cepat bosan. Oleh karena itu, dengan adanya metode pembelajaran ini guru sedikit terbantu dalam menyampaikan materi kepada siswa. Karena media audio visual tidak hanya memberikan materi saja, tetapi memberi penjelasan melalui gambar atau video yang ditampilkan. Sebagai contoh, guru menampilkan video pembelajaran tentang banjir, maka dari situ siswa dapat mencerna bagaimana proses terjadinya banjir hingga sampai pada kejadiannya. Kemudian siswa menambah pengetahuannya dan dapat mendiskusikan dengan teman maupun gurunya. Pembelajaran ini juga dapat merubah siswa yang sebelumnya berkarakter pendiam atau enggan mengutarakan pendapatnya menjadi lebih aktif dikelas melalui diskusi tersebut. Pembelajaran ini juga sebagai salah satu bukti bahwa mata pelajaran IPA tidak berpaku pada teori ataupun rumus saja, tetapi juga tidak jauh dari suatu proses pemecahan msaalah atau eksperimen di lapangan.
- Kelebihan dari media audio visual ini adalah media ini menampilkan gambar yang bergerak serta suara yang bervariasi sehingga menarik minat siswa. Jadi dapat disimpulkan bahwa media audio visual dapat meningkatkan proses belajar IPA dan minat siswa terhadap sains khususnya di Indonesia. Peningkatan hasil pemelajaran ditunjukan oleh perubahan sikap maupun perilaku dari siswa dalam belajar.
• Saran
1. Guru diharapkan lebih selektif dalam memilih bahan ajar menggunakan media tersebut
2. Guru mampu mengarahkan tingkat perhatian siswa terhadap pembelajaran tersebut agar materi dapat tersampaikan secara merata kepada seluruh siswa
3. Perlu adanya pengembangan dengan menggunakan media tersebut agar siswa tidak bosan dan lebih berkonsentrasi
4. Bagi siswa, media ini dapat digunakan sebagai bahan belajar secara mandiri
Perlu adanya desain visual maupun audio video agar siswa menjadi semakin tertarik
DAFTAR PUSTAKA
Agustina, L. (2017). Peningkatan hasil belajar IPA melalui media audio visual dengan model pembelajaran cooperative script pada siswa kelas VIII SMP negeri 1 Ceper. Proceeding Biology Education Conference, 14, 568–570.
Geometri, M. O. (2019). Pancasakti Science Education Journal. 4(April), 55–63.
Kalianda, B. A. (n.d.). Hp : 085279799755. 1.
Maschinen, B., Investition, A., Beschaffungen, G., Ersatzbeschaffungen, B., & Mittelherkunft, S. (n.d.). No 主観的健康感を中心とした在宅高齢者における 健康関連指標に関する共分散構造分析Title. 82–99.
Means, A., & Elmira, U. (n.d.). Teaching Primary School Pupils Through. 122–140.
Riyanto, N., & Asmara, A. P. (2018). Penilaian Kualitas Media Audio Visual Tentang Karakteristik Larutan Asam Basa Untuk Siswa Sma/Ma. Jurnal Pendidikan Sains (Jps), 6(1), 73. https://doi.org/10.26714/jps.6.1.2018.73-85
Saharuddin, A. (2018). Meningkatkan Hasil Belajar IPA Siswa Kelas IV-B melalui Pemanfaatan Media Audio-Visual (Film Projector) SD Negeri Kompleks IKIP 1 Kota Makassar. PEMBELAJAR: Jurnal Ilmu Pendidikan, Keguruan, Dan Pembelajaran, 2(2), 72. https://doi.org/10.26858/pembelajar.v2i2.7098
Saputra, I. G. N. H., Joyoatmojo, S., & Harini, H. (2018). The implementation of project-based learning model and audio media Visual can increase students’ activities. International Journal of Multicultural and Multireligious Understanding, 5(4), 166. https://doi.org/10.18415/ijmmu.v5i4.224
Virgiana, A., & Wasitohadi, W. (2016). Efektivitas Model Problem Based Learning Berbantuan Media Audio Visual Ditinjau Dari Hasil Belajar Ipa Siswa Kelas 5 Sdn 1 Gadu Sambong - Blora Semester 2 Tahun 2014/2015. Scholaria : Jurnal Pendidikan Dan Kebudayaan, 6(2), 100. https://doi.org/10.24246/j.scholaria.2016.v6.i2.p100-118
Yew, E. H. J., & Goh, K. (2016). Problem-Based Learning: An Overview of its Process and Impact on Learning. Health Professions Education, 2(2), 75–79. https://doi.org/10.1016/j.hpe.2016.01.004
mantap :v
BalasHapusInformatif 👍
BalasHapusmantap bro🔥🔥🔥
BalasHapusBermanfaat sekali
BalasHapusSangat bermanfaat 👍
BalasHapusSangat bermanfaat min, alhamdulillah bisa Menambah pengetahuan saya mantaps 😊
BalasHapusBagus uy
BalasHapusAwesome
BalasHapusSangat bermanfaat kak, terimakasih sering2 bikin blog ya kak :)
BalasHapusLuar biasa banget yah , Keren
BalasHapusMatap sekali bor
BalasHapusAmazing , lanjutkan!!
BalasHapusMantap lanjutkan👍
BalasHapusGood.. Lanjutkan mba emil
BalasHapusSangat mudah di mengerti 👍
BalasHapusSangat bermanfaat🖒
BalasHapusNice
BalasHapusSangat bermanfaat dan bahasanya mudah dipahami
BalasHapusKeren
BalasHapusKeren👍
BalasHapusBagus bgt :v
BalasHapus:v
BalasHapusAlhamdulilah bermanfaat sekali mba sukses terus buat kedepanya kembangkan terus ya blog ini 😊
BalasHapusBagus tolong d tingkatkan lagi
BalasHapusSudah bagus, sangat bermanfaat
BalasHapus